Yusufi | Eko Sujarwo

50

E-mail: [eko.sujarwo@yahoo.com] | [indigenousolid@yahoo.com]

NEXT
New
 
Rumah Tinggal Bpk. Amir Mahmud, Jl. Gandusari Kampak Trenggalek

 


 

Rumah Tinggal, Bpk. Imam Makhrup, Sukorejo Gandusari Trenggalek

Bukan Jaminan, Tingkah Laku Kita, akan sederajat dengan Ilmu Pengetahuan yang Kita KUASAI

 

MORE VIDEOSE

Urban Poor Linkage Simpul Surabaya

 

 KIRI | KANAN

sama saja apabila cuma cangkokan

hanya jebakan untuk menggolong-golongkan

membentuk peradaban yang berbeda

bila sudah berbeda selanjutnya mudah membenturkan

Perang adalah garis batas antara harapan, impian dan kenyataan

Perang harus dilakukan bila memang ada kaum yang semaunya mengokohi kaum yang lainnya untuk jayaning diri sendiri.

Sejarah kita

adalah sejarahnya para makelar yang mengaku saudagar

hanya segerombolan  makelar sumber daya yang tidak lebih baik dari VOC Belanda. domba pun bisa memimpin, jika hanya bertugas menjual harga diri, meminjam dan berhutang. Negara adidaya mana yang tidak mau membantu jika sudah tahu jaminannya adalah tenaga kerja, yang keras, ulet, plus murah meriah, sumber daya alamnyapun melimpah ruah. jangankan lulusan SD, orang gak berbau sekolahanpun akan bisa menjadi pemimpin-2 negeri ini, jika hanya bertugas menjalankan Hal-hal yang sudah di cangkokkan rentalneer.

"Dzat yang maha berkuasa tidak mau merubah nasib suatu Kaum, jika kaum itu sendiri tidak mau merubahnya". seperti halnya dogma akan adanya satrio piningit, adalah dogma pembodohan, agar kita masyarakat bermimpi dalam tidur panjang, dan tidak sadar dapur-dapur kita terus menerus di curi. kesejahteraan dan keadilan seperti harta taruhan yang berada diatas meja-meja perjudian. perubahan kekuasaan dari pada Masyarakat yang Paranoya belum sadar. Tidak mengerti akan Hak dan Kwajibannya, adalah masyarakat yang baru terlepas dari Penindasan ( Pasca Hegemoni Birokrasi Monarki Absolute), sementara keterlepasan itu disebabkan oleh kekuatan dan kekuasan lain, yang belum jelas kepentingannya. Keterlepasan itu bukan merupakan hasil Perjuangan masyarakat itu sendiri. maka yang terjadi, masyarakat tersebut akan tetap menjadi alat sebagai syarat syah suatu Negara. hanya sebagai Obyek bukan Subyek kekuasaan. akibatnya kekuasaan Dari, Oleh, dan Untuk Rakyat hanya Retorika dan Idealita di Ruang-ruang Kelas. tidak akan pernah Terwujud dalam realitas politik hubungan Rakyat dengan Negaranya. dan bukan Barang yang aneh jika masyarakat itu selalu di bodohi, di miskinkan, di tindas dan di didik dengan ketakutan-ketakutan. karena dalam benak mereka bahwa kekuasaan pemerintah, Birokrasi, dan aparatur beserta Instrumen-instrumen kekuasaannya itu masih berada di atas mereka. bukannya setara dan bahkan sejujurnya berada di bawah mereka. mereka mengganggap pemimpin adalah nahkoda yang tidak bisa diarahkan, apalagi di protes jika oerahu menuju Arus yang membahayakan kelangsungan suatu bangsa. mereka/ Masyarakat belum sadar, bahwa Negara atau Pemerintahan beserta Instrumennya didirikan hanya sebagai alat dan Fungsi Legalisasi untuk menuju keadilan dan Kemakmuran masyarakat Itu sendiri. Paradigma itulah yang harus kita Rubah, kalau kita memang ingin bicara Perubahan dan membenci Stagnasi. dan itu hanya bisa di lakukan di akar Rumput dengan cara menyibak paradigma dan memberikan Idelita bentuk Pendidikan Politik kekuasaan terhadap Masyarakat. Satrio Piningit; bukan apa-apa tanpa adanya peradaban masyarakat yang sadar akan Hak dan Kwajibannya. Pemimpin adalah Cermin dari pada bagaimana karakter bangsanya; pemimpin domba adalah domba, pemimpin serigala adalah serigala, itu konsekwensi dari negara Demokrasi. jangan harap akan datangnya masa dimana pendekar keadilan dan kesejahteraan akan mengembara di atas pangkuan ibu pertiwi, jika kita sebagi bangsa belum mampu berbudaya bagaimana harus terbiasa berlaku adil dan iklas berbagi impian. masih ada selapis tipis masyarakat kita yang berjaya di atas sebahagian besar yang lapar di bumi yang kaya. dan ironisnya mereka notabene adalah orang-orang yang kita percaya sebagai nahkoda dan para staf-staf kapal yang katanya berwibawa di atas iklan, membawa kapal besar nusantara

Membebaskan dengan Perjuangan sekelompok masyarakat yang terkungkung Asasinya oleh Negara yang Totaliter | Monarki Absolut  adalah kerja nyata yang suci, tapi akan lebih memiliki arti serta kekuatan yang berarti, jika masyarakat itu memperjuangkan sendiri asasinya.

Untuk itu masyarakat harus mengerti dan Paham.

Untuk mengerti dan paham, maka yang mengerti dan pahamlah yang mempunyai Kewajiban turun ke Akar Rumput untuk Bekerja bersama Rakyat,mengenai pemahaman bagaimana Kewajiban Negara terhadap Rakyatnya.

 


 KLIPING MEDIA

 Collections | 50

 50 Percent Publisher

 

My Pages

Home
Blog
Photo Gallery
About Me
Mechanical
Building
Flixster
Friendster
Youtube Videos
Start I
KBS
Kliping
Main Pages

Flixster Community

Friendster Community

Youtube Videos Community 

Janganlah memberikan suatu gelar apapun terhadap kami, selama gelar yang kami capai di dalam suatu Institusi Pendidikan masih dalam tahap kemampuan membebaskan diri sendiri dari Kelaparan. Apalagi bertingkah laku seperti kaum Wisynu Jawa yang halal untuk  "Menginjak dan Mengokohi Orang Lain Untuk Jayaning diri sendiri" 

Sudahkah, "Kita Merdeka dalam sebuah Kemerdekaan"? 

Masihkah ada, Kebijakan-2 dan Peraturan yang memiskinkan kita?

Harus Bagaimana, Jika Pajak yang kita bayarkan kepada Aparatur, selalu dijadikan alat untuk menggusur ? 

Kesalahan Pengeboran, Bukanlah Bencana Alam. Hanya manusia yang tidak setimbang antara pikiran, perasaan dan nafsunya. yang meyakini keyakinan Sebahagian Ilmuwan yang jelas-jelas Tingkah Lakunyanya sama sekali tidak Sederajat dengan Ilmu Pengetahuan Yang di kuasainya, Ilmu yang di dapat dari Institusi Pendidikan yang di bangun dari uang masyarakat, jika benar para ilmuwan itu pernah bersekolah.  untuk apa gelar selangit?, bila pola pikirnya seperti cowboy?, menangislah Roh di bawah nisan tanpa nama!!!!

" APA ITU agitasi yang berKARAKTER PENGGOBLOKAN PUBLIK" 

Penanganan dan Penaggulangan Tragedi lapindo brantas Inc. adalah gambaran, akan munculnya kembali ketamakan pedagang, dengan pola, kerangka pikir serta tindakan sejenis VOC zaman BELANDA. dimana Ketamakan, Adu domba pemecahan hegemoni kehidupan warga dan kearifan budaya, janji yang tinggal janji, molornya pembayaran, orang terkaya yang ngemis duit dan tanggungjawabnya ke beban APBN nya negara kita yang sudah  nyata-nyata miskin, tutup-menutupi bangkai busuk adalah narasi lingkaran setan kekuasan manusia untuk mengokohi manusia lainnya untuk kekayaan dan jayaning diri sendiri, dan golongan. 


20090416; CURICULUM VITAE


PERJUANGAN, tanpa MENGENAL ARTI KALAH ATAU MENANG
MARI KAWAN, MULAI MENGKACA
PADA JASAD YANG MERINDUKAN
NISAN-NISAN PENDOSA TANPA NAMA
YANG RELA
KARENA
BANGSANYA
BELUM MERDEKA
DALAM SEBUAH KEMERDEKAAN

 Celaka kah? orang-orang yang menjebak dirinya sendiri ke dalam golongan-golongan | dan menyeret orang-orang lainnya kedalam golongan-golongan


<<<Comment > >>

Melihat dari titik 100 Percent | Untuk berdiri digaris Batas 50 Percent 

Melihat di detik 0 Malam Hari |  Memejam di detik 0 Siang Hari

Live is Multiple Choice of Clasifications and Specifications

 


NEXT PAGES | Click on Picture Please